PASURUAN, Wartapawitra.com — Peringatan Hari Santri Nasional 2026 tidak hanya menjadi ruang refleksi atas kontribusi santri bagi bangsa, tetapi juga momentum untuk memperluas ruang kreativitas di kalangan generasi muda. PC LESBUMI NU Bangil menerjemahkan semangat tersebut melalui workshop seni cetak anthotype yang melibatkan 54 santri, pelajar, dan mahasiswa dari sejumlah pondok pesantren, sekolah, serta perguruan tinggi di wilayah Pasuruan.
Kegiatan yang berlangsung pada Minggu (18/10/2026) di Gedung Graha PCNU Bangil tersebut menghadirkan Kharisma Adi Bukhori, yang akrab disapa Pak Adi, sebagai pemateri sekaligus praktisi seni cetak berbasis bahan alami.
Melalui workshop ini, peserta diperkenalkan pada teknik penciptaan karya visual dengan memanfaatkan pigmen tumbuhan sebagai medium cetak. Anthotype menawarkan pendekatan berkesenian yang relatif sederhana karena proses pembentukan gambarnya memanfaatkan paparan sinar matahari, tanpa memerlukan kamar gelap sebagaimana teknik fotografi konvensional tertentu.
Bahan-bahan yang digunakan pun dapat dijumpai dalam kehidupan sehari-hari. Kunyit, buah naga, bunga telang, kluwek, hingga berbagai tumbuhan yang memiliki pigmen warna dapat dieksplorasi untuk menghasilkan karakter visual yang beragam. Pendekatan tersebut sekaligus membuka perspektif bahwa lingkungan sekitar bukan sekadar sumber bahan, melainkan juga ruang belajar dan sumber inspirasi artistik.
Pak Adi menjelaskan bahwa pengetahuannya mengenai teknik anthotype diperoleh ketika menempuh pendidikan di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Pengalaman berinteraksi dengan komunitas penggiat fotografi turut memperkaya pemahamannya mengenai alternatif proses penciptaan gambar yang memanfaatkan material alam.
Baginya, pengenalan teknik ini penting agar santri dan generasi muda memiliki kesempatan mempelajari seni melalui praktik langsung. Selain menambah keterampilan, penggunaan bahan-bahan alami juga mendorong peserta untuk lebih peka terhadap potensi lingkungan di sekitarnya.
Ketua PC LESBUMI NU Bangil, Muchamad Najib, mengatakan bahwa kegiatan tersebut dirancang sebagai ruang pembelajaran seni yang terbuka bagi santri, pelajar, dan mahasiswa, khususnya mereka yang berada dalam lingkup kerja PCNU Bangil.
“Acara workshop tersebut bertujuan mengajak para santri, pelajar dan mahasiswa/i untuk terlibat secara langsung dalam proses belajar berkesenian, khususnya para santri, pelajar dan mahasiswa/i yang berada dalam lingkup kerja PCNU Bangil,” ujar Najib.
Ia berharap kegiatan ini dapat memberikan bekal keterampilan, memperluas wawasan, sekaligus menghadirkan pengalaman baru bagi peserta dalam menghasilkan karya seni. Hasil workshop nantinya tidak berhenti sebagai proses pembelajaran, tetapi akan diperkenalkan kepada publik melalui pameran seni rupa.
Pameran tersebut dijadwalkan berlangsung pada 28–31 Oktober 2026 di Pondok Canga’an, Bangil. Pemilihan lokasi ini turut memberikan dimensi historis dalam rangkaian kegiatan Hari Santri, mengingat Pondok Canga’an memiliki keterkaitan dengan perjalanan sejarah ulama dan perkembangan Nahdlatul Ulama.
Pondok Canga’an dikenal memiliki jejak historis yang berkaitan dengan perjalanan keilmuan sejumlah tokoh besar, termasuk Syaikhona Kholil Bangkalan, KH. Hasyim Asy’ari, dan KH. Wahab Hasbullah. Dengan demikian, pameran tersebut diharapkan menjadi ruang pertemuan antara ekspresi seni generasi muda dan ingatan historis pesantren.
Secara historis, anthotype merupakan teknik pencetakan fotografis yang memanfaatkan bahan peka cahaya dari tumbuhan. Istilahnya berakar dari kata Yunani anthos, yang berarti bunga. Teknik ini dikembangkan oleh ilmuwan Inggris Sir John Herschel pada 1839.
Melalui rangkaian workshop dan pameran tersebut, PC LESBUMI NU Bangil berupaya memperkuat peran seni sebagai bagian dari kehidupan pesantren dan masyarakat. Kreativitas tidak hanya dipandang sebagai aktivitas estetis, tetapi juga sebagai sarana pembelajaran, eksplorasi pengetahuan, dan pengembangan potensi generasi muda.
Ke depan, PC LESBUMI NU Bangil berharap dapat terus menjadi ruang tumbuh bagi beragam ekspresi kesenian di Pasuruan, khususnya di lingkungan PCNU Bangil, sekaligus mendorong lahirnya generasi yang mampu merawat tradisi tanpa menutup diri terhadap inovasi.





