JAKARTA, Wartapawitra.com — Forum Percepatan Transformasi Pesantren (FPTP) kembali mencatatkan langkah penting dalam gerakan literasi keislaman melalui pelaksanaan Musabaqah Qira’atil Kutub (MQK) atau Lomba Membaca Kitab Kuning (MKK). Kegiatan ini menjadi bagian dari peringatan Hari Santri Nasional 2025, dengan semangat ihyaut turats menghidupkan kembali tradisi keilmuan Islam klasik di tengah arus modernisasi dan digitalisasi pesantren.
Pelaksanaan MQK FPTP dirancang dalam tiga tahap utama:
1. Seleksi Awal (Daring) melalui pengiriman video penampilan peserta pada 1–27 Oktober 2025
2. Semifinal dilaksanakan 8 November 2025, dan
3. Final — digelar secara luring di Jakarta pada 9 November 2025.
Rangkaian ini bukan hanya wadah kompetisi keilmuan, tetapi juga sarana aktualisasi santri sebagai penjaga peradaban ilmu, moral, dan tradisi bangsa.
Anggota DPR RI Komisi XIII Fraksi PKB, Dra. Hj. Anisah Syakur, M.Ag, yang turut memberikan dukungan penuh terhadap pelaksanaan MQK ini, menegaskan bahwa kegiatan tersebut bukan sekadar lomba tahunan, tetapi gerakan kebudayaan yang meneguhkan kembali posisi pesantren dalam menjaga akal sehat dan spiritualitas bangsa.
“Kita tidak sedang bicara soal siapa yang paling fasih membaca kitab. Kita sedang menegaskan eksistensi pesantren sebagai pusat pengetahuan dan kebijaksanaan. MQK ini adalah ruang perlawanan intelektual terhadap zaman yang mulai kehilangan arah nilai,” tegas Anisah dengan nada penuh keyakinan.
Lebih lanjut, ia menyatakan bahwa FPTP dengan konsistensi dan semangatnya telah menjadi pelopor dalam mempertemukan kembali warisan turats ulama klasik dengan kebutuhan zaman modern.
“Pesantren tidak boleh kehilangan karakter. Dalam dunia yang serba cepat, para santri harus tetap berakar kuat pada tradisi ilmu, tetapi juga siap menatap masa depan dengan kecerdasan kontekstual. Di sinilah peran FPTP menjadi sangat strategis,” ujarnya.
Menurut Anisah, keberhasilan pelaksanaan MQK ini adalah bukti nyata bahwa pesantren tidak tertinggal dari dinamika zaman, melainkan sedang memimpin arah moral dan intelektual bangsa.
“Jangan pernah anggap remeh kitab kuning. Di dalamnya tersimpan peradaban berpikir yang telah membentuk bangsa ini nilai, adab, dan logika Islam Nusantara. Siapa yang mampu membaca kitab, berarti ia mampu membaca sejarah bangsanya sendiri,” tandasnya dengan tegas.
Ia juga menambahkan bahwa generasi santri hari ini perlu terus difasilitasi dan diberi ruang untuk menunjukkan kapasitasnya di tengah derasnya arus digitalisasi dan komersialisasi pendidikan.
“Saya berharap MQK FPTP menjadi simbol bahwa santri adalah kekuatan peradaban yang tidak bisa dipinggirkan. Negara harus hadir untuk memastikan mereka mendapatkan ruang yang layak, dukungan yang konkret, dan penghargaan yang setara,” pungkas Anisah.





