BANDUNG, Wartapawitra.com – Tayangan salah satu program di stasiun televisi nasional TRANS7 menuai kecaman dari berbagai kalangan santri dan pesantren. Tayangan tersebut dinilai melecehkan dan menghina martabat pondok pesantren dan para kyai, khususnya Pondok Pesantren Lirboyo di Kediri, Jawa Timur.
Ketua Pimpinan Cabang Pagar Nusa Kota Bandung, Abdurrohman, S.Th.I, menyampaikan pernyataan tegas terkait hal ini. Ia menilai tayangan tersebut telah menampilkan pesantren dan kehidupan santri secara keliru dan tidak berimbang.
“Kami menilai tayangan itu sangat tidak pantas. Selain tidak mencerminkan etika jurnalistik, juga merendahkan martabat kyai dan santri yang selama ini menjadi penjaga moral dan pendidikan umat,” ujar Abdurrohman dalam keterangan tertulisnya, Selasa (15/10/2025).
Menurutnya, Pesantren Lirboyo bukan sekadar lembaga pendidikan biasa. Lirboyo memiliki sejarah panjang dalam dunia keislaman di Indonesia, termasuk sebagai tempat lahirnya organisasi bela diri Pagar Nusa pada tahun 1986. Pesantren tersebut dikenal luas sebagai pusat keilmuan dan pengkaderan ulama, serta memiliki ribuan santri dari berbagai daerah di Indonesia.
Ia menegaskan bahwa isi tayangan yang menggambarkan kehidupan pesantren dengan nada satire dan tendensius jelas melukai perasaan umat Islam, terutama kalangan pesantren.
“Ini bukan sekadar soal Lirboyo, tapi soal marwah pesantren secara keseluruhan. Pesantren adalah benteng akhlak dan moral bangsa. Jika lembaga penyiaran seenaknya menampilkan hal-hal seperti itu, ini bisa merusak persepsi publik terhadap dunia pesantren,” tambahnya.
Menanggapi kejadian tersebut, PC Pagar Nusa Kota Bandung menyampaikan beberapa tuntutan kepada pihak TRANS7, antara lain:
1. Permintaan maaf terbuka kepada Pondok Pesantren Lirboyo, para kyai, santri, dan seluruh masyarakat pesantren.
2. Penarikan seluruh tayangan dan cuplikan video yang mengandung unsur pelecehan terhadap pesantren dari semua platform digital.
3. Penayangan program koreksi (hak jawab) yang memberi ruang bagi pihak pesantren untuk menjelaskan fakta sebenarnya.
4. Evaluasi internal terhadap tim produksi dan redaksi agar kejadian serupa tidak terulang.
Beliau juga mengajak para pendekar Pagar Nusa terkhususnya di kota Bandung untuk tetap tenang namun waspada, serta tidak membiarkan marwah pesantren dilecehkan oleh pihak mana pun.
“Kami menyerukan kepada seluruh pendekar untuk menjaga ketertiban, tapi juga tetap bersuara. Ini saatnya kita menunjukkan bahwa pesantren bukan tempat yang bisa diremehkan, melainkan penjaga nilai-nilai keislaman dan kebangsaan,” tegasnya.
Ia menutup pernyataannya dengan doa agar kejadian ini menjadi pelajaran berharga bagi semua pihak, terutama media, agar lebih berhati-hati dalam menayangkan konten yang menyangkut lembaga keagamaan.
“Semoga Allah SWT selalu menjaga para kyai dan pesantren di seluruh Indonesia dari segala bentuk pelecehan dan fitnah,” pungkasnya.





