Jombang, Wartapawitra.com – Di tengah semakin banyaknya bisnis kuliner, khususnya usaha angkringan, cerita Agnes (33), warga Dusun Sedamar, Desa Talunkidul, Kecamatan Sumobito, Kabupaten Jombang, menjadi contoh bahwa peluang usaha bisa berawal dari kebiasaan dan hobi sederhana.
Perempuan yang memiliki kegemaran nongkrong dan menikmati kopi bersama teman-temannya itu kini mampu mengubah hobinya menjadi sebuah usaha angkringan yang ramai didatangi warga hampir setiap malam.
Sekitar empat bulan sebelumnya, Agnes masih menjalankan usaha berjualan sayur atau lijo di depan rumahnya. Namun, setelah kurang lebih enam bulan menekuni usaha tersebut, ia merasa bisnis sayuran yang dijalankannya belum menunjukkan perkembangan signifikan. Situasi itu kemudian membuatnya berpikir untuk mencari peluang usaha lain yang lebih dekat dengan minat dan kesehariannya.
“Akhirnya saya berpikir, kok jualan sayur begini-begini saja ya? Kebetulan saya memang suka ngafe bareng teman-teman. Dari situ muncul ide untuk membuka angkringan. Teman-teman juga mendukung, akhirnya saya nekat membuka angkringan meskipun persiapannya cukup mendadak,” tutur Agnes, Selasa (9/6/2026).
Langkah berani tersebut rupanya menjadi awal perubahan dalam perjalanan usaha Agnes. Angkringan yang ia kelola mulai berkembang dan dikenal masyarakat di wilayah Kecamatan Sumobito hingga kawasan sekitarnya. Bahkan, dalam satu malam, omzet yang berhasil diperoleh bisa mencapai sekitar Rp500 ribu.
Daya tarik angkringan milik Agnes bukan hanya terletak pada menu yang disajikan, tetapi juga konsep tempat yang dibuat berbeda dari angkringan pada umumnya. Pada area tempat duduk, Agnes menambahkan hiasan lampu lilin yang menghadirkan nuansa hangat, nyaman, dan estetik bagi para pengunjung.
Ketika malam tiba, cahaya redup dari lampu-lampu kecil tersebut menciptakan suasana santai. Kondisi itu membuat pengunjung merasa betah untuk berlama-lama, baik sekadar menikmati makanan, berbincang dengan teman, maupun menghabiskan waktu bersama keluarga.
Dari sisi menu, Agnes menyediakan beragam pilihan makanan dan minuman dengan harga yang tetap terjangkau bagi masyarakat. Pilihan menunya antara lain aneka sate bakaran, nasi “kucing” khas angkringan, berbagai camilan ringan, kopi, hingga minuman dingin yang cocok dinikmati sambil berbincang pada malam hari.
Meski angkringannya semakin banyak dikunjungi, Agnes sampai saat ini masih mengelola usahanya sendiri. Karena itu, jam operasional angkringan miliknya dibuat cukup fleksibel dan menyesuaikan kondisi di lapangan.
“Biasanya saya buka mulai pukul 19.00 sampai sekitar pukul 02.00 dini hari, tergantung situasi dan banyaknya pengunjung,” ujarnya.
Selain konsep tempat yang nyaman, keramahan Agnes dalam melayani pelanggan juga menjadi salah satu alasan banyak pengunjung kembali datang. Salah satunya Tiyan (35), warga Desa Mancilan, Kecamatan Mojoagung, Kabupaten Jombang, yang mengaku hampir setiap hari menghabiskan waktu malam di angkringan tersebut.
Bagi Tiyan, angkringan milik Agnes menjadi tempat yang tepat untuk melepas lelah setelah menjalani aktivitas seharian.
“Tempatnya nyaman untuk bersantai dan suasananya juga enak. Cocok untuk menenangkan pikiran setelah bekerja. Pelayanannya ramah, jadi saya sering datang ke sini,” ungkap Tiyan.
Perjalanan Agnes membangun usaha angkringan ini menjadi kisah inspiratif tentang keberanian mengambil peluang baru. Dengan memadukan kreativitas, ketekunan, dan pelayanan yang baik, hobi nongkrong dan ngopi bersama teman kini berhasil ia ubah menjadi usaha yang menjanjikan.
Dari yang sebelumnya hanya berjualan sayur di depan rumah, Agnes kini mampu membangun angkringan estetik yang menjadi salah satu tempat nongkrong favorit warga Sumobito dan sekitarnya.





